Short Movie
The Little Violin
11 Maret 2026 | BY Theresia Falentia Pradnya ParamitaRole: Director & Scriptwriter
Relevan untuk karir: Film Festival, Earliest Work, Direction, Scriptwriting — menunjukkan konsistensi sejak lama
The first film produced during middle school was submitted to the HighScope Film Festival (HIFFEST) in 2018.
Terperangkap dalam bayang-bayang duka ibunya setelah kematian sang ayah, Jazzy harus mengubur mimpinya menjadi pemain biola—hingga sebuah keputusan mengubah segalanya.
Mr. Sylvano, seorang pemain biola yang cukup terkenal. Baginya, biola adalah hidupnya. Sampai ia matipun, biola akan menjadi alasannya. Elisabeth, seorang ibu yang bergelar dokter muda, sekaligus istri dan Mr. Sylvano. Jiwa keibuan dan dokter ada dalam dirinya. Berulang kali ia meminta suaminya untuk berhenti sejenak dari konsernya. Hingga pada akhirnya hal yang buruk itu benar benar terjadi. Mr. Sylvano meninggal dunia saat usai konsernya.
Sebagai dokter, Eli merasa sangat menyesal tidak dapat menyelamatkan nyawa suaminya sendiri. Sebagai ibu, ia berusaha menjaga Jessie dengan menjauhkan dari mimpinya yang ingin menjadi seperti ayahnya. Eli menganggap setiap keburukan yang terjadi pada suaminya, disebabkan karena biola dan musik. Jessie dibesarkan dengan cara yang keras. Ia menjadi anak yang penurut dan tidak pernah membantah lagi sampai dia remaja. Titik dimana Jessie akan menentang semua asumsi ibunya tentang biola dan musik, justru menjadi titik dimana ia terpuruk dan akhirnya kalah lagi terhadap ibunya. Ia begitu muak dengan hidupnya dan memilih pergi dari rumah untuk mencari ketenangan. Ia berharap ia bisa menemukan sesuatu tentang dirinya.
Akankah Eli melepaskan Jessie?
